Wah siapa sih yang nggak tau novel Ayat-Ayat Cinta. Novel Kang Abik alias ustad Habiburrahman El Shirazy yang terbit pertama kali tahun 2004. Kita yang sudah lama di Cairo pasti kenal dengan sosok kang Abik yang sering tampil dengan pembacaan puisinya yang sangat menyentuh. Seringnya tampil pada pentas seni di kulliyah at’thib Al-Azhar Cairo. Atau acara-acara menarik lainnya yang diselenggarakan mahasiswa Indonesia di Cairo. Cihuuuuuuuui…jadi kangen euy sama kairo. Pingin balik ke Kairo nih. Hehehehe…. Yang paling kita banggain, novel ini sukses menjadi salah satu novel fiksi best seller di Indonesia yang dicetak sampai dengan 160 ribu eksemplar hanya dalam jangka waktu tiga tahun. Bener-bener sukses.
Cerita singkatnya gini, seorang pemuda Indonesia bernama Fahri bin Abdullah Shiddiq (diperanin Ferdi Nuril) yang udah tujuh tahun menempuh pendidikan di Universitas Al Ahzar di Kairo. Dalam kehidupannya sebagai seorang mahasiswa dia menemui banyak tantangan dalam hidup dari masalah keuangan, kesehatan, sampai urusan cinta coy.
Di novel ini, Fahri tuh sebagai seseorang yang sempurna, hampir tanpa cacat sedikitpun. Pintar, rajin dan disukai oleh orang-orang, termasuk kaum hawa. Fahri emang pengen nikah dengan wanita shalehah untuk nyempurnain setengah agamanya. Tapi untuk nyari bidadari itu Fahri belum sempat. Hidup Fahri penuh dengan target.
Ada cerita tentang Maria Girgis (diperanin Carissa Putri), dia Kristen Koptik yang sikapnya Islami, seneng baca Al-Quran. Dan yang paling menakjubkan dia hafal surat Maryam dan Al-Maidah. Trus ada Nurul (diperanin Melanie Putri), seorang mahasiswi Indonesia di Al-Azhar juga. Pintar, baik hati, cantik, sibuk menjadi ketua Wihdah tapi masih mau ngajar anak-anak membaca Al-Quran, dia adalah putri tunggal seorang pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Nurul diam-diam mencintai Fahri (ceee ileeeeh). Tapi sayang banget, dia nggak pernah punya keberanian untuk mengatakan atau memberi sinyal keFahri.
Nah Noura (diperanin Sazkia Mecca), tetangga depan flat Fahri, itu seorang perempuan cantik yang mengalami kekerasan dalam rumahnya oleh ayahnya: Bahadur. Nah sejak Fahri nolongin dia keluar dari rumah itu dengan bantuan Maria dan Nurul, Noura pun jatuh cinta and ngirim surat cinta kefahri (soo cute).
Nah suatu saat Fahri ketemu sama gadis Amerika yang tertarik dengan agama Islam, namanya Alicia, trus di metro ketemu gadis Jerman Palestina Turki bernama Aisha (diperanin Rianti Cartwright). Nah habis itu Fahri ngalamin berbagai gejolak dan ujian hidup. Seru abis. So, kira-kira syapa hayo jadi pasangan Fahri??? Yang udah baca novelnya sih udah pasti tau. Bukan itu sih sebenernya yang bikin gw penasaran. Filmnya itu kira-kira sebagus novelnya apa nggak yah?
Sebenarnya kan waktu kang Abik dan Ferdi Nuril ke SIC, ada yang pernah bilang bakal release habis Idul Fitri. Eh rupanya pas Kang Abik ke Masjid Fathullah di UIN, dan alhamdulillah gw sempat ketemuan, kata Kang Abik bakal mundur setelah Idul Adha. Setelah cari info, rupanya banyak yang bilang tanggal 19 Desember 2007. Nggak beberapa lama habis itu, baru-baru ini ada info ditunda lagi, karena proses editing yang belum selesai, pemutarannya diundur ampe awal tahun 2008. Trus yang katanya syuting film dibuat di Mesir kayak setting tempat dalam novelnya. Eh malah lokasi syutingnya dipindah di India dan beberapa tempat di Indonesia. Ya, kayaknya sih kalo di Mesir dananya bakal membengkak, trus izin sana sini suka ribet. Yah udah pada taulah, ba’den…bukroh…bukroh…Sebenarnya sama aja sih kebiasaan Indonesia yang suka ngaret. Hehehehe.
Sebenarnya perjuangan sutradara film ini, Hanung Bramantyo udah ngehadapin banyak cobaan. Termasuk kontroversi tentang pemain-pemainnya. Contohnya Fahri yang dimaenkan Ferdi, emang Ferdi cocok jadi sosok shaleh begitu? Trus Noura yang dimaenkan Sazkia. Kan sebenarnya Noura orang Mesir, kok jadi ‘pesek idungnya’ hehehehe…Bukannya Sazkia pantesnya jadi Nurul? Tapi pembaca bisa liat ditrailer di atas. Noura (Sazkia) teriak kenceng depan Aisya “ANA MUSH KAZZABAH!!!” taulah artinya “SAYA BUKAN PEMBOHOOONG!!!”. Coba deh liat lagi. Bagi pembaca pantes nggak? Heheheh…jadi kangen Mesir euy. Semoga film ini bisa menjadi ladang da'wah, dan sukses seperti halnya novelnya. Amiin. CAYO KANG ABIK!!!




